Jumat, 10 Februari 2017

PERSEMBAHAN YANG HARUM

PERSEMBAHAN YANG HARUM

Matius 26:6-13 (TB)
6 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta,
7 datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan.
8 Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: "Untuk apa pemborosan ini?
9 Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin."
10 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.
11 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.
12 Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.
13 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."

Ada dua orang yang menjadi topik kita perenungan kita yaitu Simon si kusta dan seorang wanita yang dikenal sebagai seorang pelacur.

Simon adalah orang yang telah mengalami kesembuhan oleh Tuhan sehingga dia dapat tinggal ditengah-tengah masyarakat kembali. (karena dalam kehidupan Yahudi orang kusta tidak tinggal secara bersama-sama secara sosial sampai mereka benar-benar sembuh). Dan bacaan diatas menunjukan bahwa Simon setelah menglami mujizat kesembuhan, dia menjadi orang yang cukup berada.
Oleh karena itulah Simon berani mengundang Tuhan Yesus bersama-sama dengan para murid-Nya.

Lalu muncul seorang wanita dengan dandanan yang sangat menyolok ala perempuan penghibur menerobos ke dalam rumah Simon yang sedang berbicara dengan Tuhan Yesus beserta para murid, dan bersimpuh tepat di kaki Tuhan, sembari tanpa banyak bicara menumpahkan (memecahkan botol) minyak narwastu, wewangian yang menjadi andalan hidupnya untuk memikat para hidung belang.
Biasanya minyak narwastu yang sangat mahal itu menunjukan kelas layanan seorang wanita pelacur. Mereka menggantung botol pualam berisi minyak narwastu sebagai hiasan leher (kalung) dan menggunakan sangat sedikit saja untuk memberikan orama pemikat bagi laki-laki hidung belang, mengingat harganya sangat mahal.

Apa yang dapat kita petik dari perilaku Simon dan Wanita ini?
Simon, walau telah disembuhkan Tuhan dari penyakit kustanya, tetapi penyakit kusta sesungguhnya belum hilang dari hati Simon sehingga predikat si kusta masih melekat dalam dirinya. Simon merasa cukup dengan kesembuhannya dan jamuan kasih adalah cara dia menjaga hubungan dengan Tuhan Yesus.
Kadang kitapun memperlakukan Tuhan seperti Simon. Asal orang melihat aktifitas kita sebagai orang kristen, dirasa itu sudah cukup.

Berbeda dengan wanita pelacur ini. Dia tidak menutupi dirinya sebagai pelacur. Dia datang kepada Tuhan dengan keadaan dirinya apa adanya. Namun dikaki Tuhan, dia telah memecahkan minyak narwastu yang mahal harganya yang menjadi andalan hidupnya. Dikaki Tuhan dia mau katakan, aku mau memberikan yang terbaik dari apa yang kupegang sebagai kebangganku dan menyerahkan ke dalam tangan Tuhan.
Tuhan melihat hati wanita ini yang mau memulihkan hidupnya kembali dengan melepaskan apa yang menjadi kebanggannya.

Saat ini, kalau ada yang kita miliki dan itu menjadi penghalang atau hambatan kita untuk bertumbuh dalam mengikuti Tuhan, lepaskan sekarang juga.
Biarlah kita menikmati hidup yang dipulihkan total di dalam Tuhan dengan melepaskan kebanggan-kebanggan lahariah kita supaya tidak ada keterikatan predikat masa lalu seperti si Simon mantan kusta yang tetap disebutkan.

Mari memberikan hidup kita seutuhnya kepada Tuhan, supaya dimanapun kita berada, apapun yang kita lakukan semuanya itu mendatangkan keharuman untuk nama Tuhan dipuji.
Roma 12:1; Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

TYb.-

Kamis, 02 Februari 2017

MEZBAH KELUARGA

"SAYA TANTANG ANDA!"

Bacaan: Mazmur 119:41-48

Sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu. Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya (Mazmur 119:43,44)

Saya mendengar suatu cerita tentang sebuah gereja kecil yang mengadakan reuni. Seorang mantan jemaat yang menghadiri perayaan itu telah menjadi seorang jutawan. Ketika ia bersaksi bagaimana Allah memberkatinya selama bertahun-tahun, ia mengaitkan hal itu dengan suatu peristiwa dari masa kecilnya.

Ia mengatakan bahwa ketika masih kecil, saat ia mendapatkan penghasilan pertama, ia memutuskan untuk menyimpannya sampai akhir hidupnya. Namun kemudian seorang misionaris tamu berkhotbah tentang kebutuhan mendesak di ladang misi. Ia bergumul untuk memberikan uangnya itu. "Namun, Tuhan menang," kata lelaki itu. Kemudian, dengan bangga ia menambahkan, "Saya memasukkan uang yang menjadi harta saya itu ke dalam kantung persembahan. Dan saya yakin, alasan Allah sangat memberkati saya adalah karena ketika masih kecil, saya memberikan semua yang saya miliki kepada-Nya." Jemaat terharu mendengar kesaksian itu. Namun, kemudian seorang wanita tua bertubuh kecil yang duduk di depan bersuara, "Saya tantang Anda untuk melakukannya lagi!"

Ada kebenaran penting di balik cerita itu: Prestasi masa lalu bukanlah ukuran kedewasaan rohani saat ini. Mazmur 119:44 mengatakan, "Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa." Pemazmur sadar ia perlu menjaga komitmennya selalu segar setiap hari.

Sebagai orang kristiani, kita tidak dapat mengandalkan kemenangan-kemenangan masa lalu. Saat ini kita harus memberikan kesetiaan kita seutuhnya kepada Tuhan. Maka tak ada orang yang akan menantang kita, "Saya tantang Anda untuk melakukannya lagi!" --DCE

GUNAKANLAH MASA LALU SEBAGAI "PAPAN LONCAT"
BUKAN SEBAGAI "SOFA"