Orang Yang Berjalan Dengan Tuhan Paham Apa Itu Korban
Dalam konteks Perjanjian Lama, persembahan kepada Allah adalah korban yang dipersembahkan diatas mezbah. Para tokoh Alkitab Perjanjian Lama sangat memahami korban mezbah yang dipersembahkan kepada Allah.
Zaman sebelum Hukum Taurat dan segala aturan hidup yang tertib diberikan kepada Musa, mezbah korban telah menjadi sarana ibadah manusia dengan Allah pencipta.
Ingatlah Nuh waktu turun dari Bahtera setelah seratus lima puluh hari mengapung diatas air, mempersembahkan korban diatas mezbah.
Pada zaman Musa, secara spesifik Allah menyuruh Musa mengatur ibadah yang didalamnya ada prosesi mempersembahkan korban, dengan cara Allah.
Dalam Tabernakel (Kemah Musa), Allah sendiri yang memberikan peraturan imam untuk mengatur cara mempersembahkan korban yang kudus dan tak bercela. Maksud dan tujuan petunjuk Allah ini adalah membedakan korban persembahan kepada Allah dengan korban persembahan yang dilakukan kepada dewa-dewa bangsa lain.
Tabernakel yang ada ditengah-tengah orang Israel, adalah bayangan dari Kristus yang berdiam (berada) ditengah-tengah bangsa Israel. (Ibrani 10:1, Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.) Syukur kepada Allah di dalam nama Tuhan Yesus, bahwa hari ini Kristus bukan lagi bayangan dalam kehidupan kekristenan kita melainkan dia nyata dan diam di dalam setiap pribadi dalam karya Roh Kudus yang ajaib.
Bagaimana prosesi korban persembahan dalam ibadah hukum Taurat? Ingat, ada dua mezbah dalam Tabernakel. Mezbah pertama adalah tempat korban penebusan yang berada di halaman. Tetapi korban yang kedua adalah korban syukur, ini berbicara tentang penyembahan dan pujian yang menyenangkan hati Allah. Tempatnya bukan lagi di halaman melainkan di ruang kudus. Diruang ini benar-benar kudus, karena yang bisa masuk didalamnya hanyalah para imam yang harus memenuhi standar kekudusan Allah.
Sekali lagi, bahwa dalam konteks ibadah Tabernakel, Kristus hanya bayangan, tetapi bagi kita yang hari ini hidup dalam zaman kasih karunia, yang dilayakan untuk ke tempat suci Tuhan melalui korban keselamatan Kristus diatas kayu salib dan setelah dalam karya keselamatan Kristus (hidup dalam pertobatan), kita dilayakan Tuhan membawa korban persembahan imam, yaitu pujian dan penyembahan yang menyenangkan hati Tuhan. Inilah hal luar biasa yang telah dilakukan Tuhan Yesus bagi kita.
Sama seperti tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama memahami bahwa mezbah korban syukur sangat menyenangkan hati Tuhan, dan kemudian Musa diperintahkan Tuhan untuk melakukan ibadah yang menyenangkan hati Tuhan lewat pelayanan imam didalam ruang suci, demikian kita juga harus melakukan hal yang sama sebagai ungkapan syukur atas semua anugerah dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita.
Ingatlah, Tuhan telah memberikan hidup-Nya kepada kita supaya kita yang berdosa menjadi kudus dan layak memberikan korban syukur kepada Dia yang memang layak menerimanya.
Oleh karena itu, persembahan bagi orang Kristen di zaman kasih karunia ini mempunyai hubungan yang strategis dengan Bapa di surga. Karena hanya orang benar-benar hidupnya berjalan dengan Tuhan paham bahwa mezbah korban syukur (PERSEMBAHAN) adalah sarana rohani yang menjaga hubungannya dengan Bapa di surga serta itulah cara menyenangkan hati-Nya.
Saudara tidak akan pernah kekurangan atau habis segala harta benda oleh karena memberikan persembahan kepada Tuhan. Bawalah segala persembahan syukur kepada Allah ditempat dimana saudara berjemaat. Ingat, hal yang perlu dibawa sebagai persembahan yang menyenangkan hati Tuhan adalah; 1. Kehidupan kita, 2. Memuji dan menyembaha Dia, 3. Berikan persembahan sebagai korban syukur.. Jangan balik urutan ini. Jangan hanya memberikan persembahan di gereja tetapi kehidupan kita justru dipersembahkan kepada keinganan hawa nafsu saja. Atau memuji dan menyembah Tuhan tanpa persembahan alias kikir.. Fakta Alkitab justru mengingatkan kita bahwa oleh karena persembahan yang menyenangkan hati Tuhan itulah kita semakin diberkati dalam segala kelimpahan. Bacalah kisah Ayub, yang oleh karena selalu menjaga hubungannya dengan Tuhan melalui koban mezbah, maka hidupnya dilindungi dan diberkati Allah. Sesaat saja Ayub dicobai oleh karena keinginan iblis, namun setelah kesetiaan Ayub teruji, Allah memberkati dia melebihi apa yang pernah dia dapatkan sebelumnya. Justru kejadian yang dialami oleh Ananias dan Safira dalam Kisah Rasul 5:1-11, itulah menjadi peringatan akan kita, supaya kita juga dapat mempermuliakan Tuhan dengan berkat kekayaan. Amsal 3:9-10, Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.
