Sabtu, 07 November 2020

Emosi dan Perasaan (Ibadah Raya II, Shekinah Glory Sorong)


Ringkasan khotbah Ps. Willem R. Latuny, pada ibadah raya sesi ke 2, Minggu 1 November 2020, jam 10:00 wit.

EMOSI dan PERASAAN

Dalam proses pertumbuhan menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita selalu dihanyutkan dengan dominasi perasaan dan emosi. Padahal Tuhan mau kita berjalan dan bertumbuh dalam Roh dan kebenaran.

Bukan berarti kita mengabaikan perasaan dan emosi, tetapi kita harus mengendalikan perasaan dan emosi kita dibawah kendali manusia roh, supaya keinginan Kristuslah yang nampak dalam kehidupan kita, dan pertumbuhan rohani kita menjadi sehat.

Bacaan Matius 8:18-22 (TB)  
Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. 
Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."
Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku."
Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."
---•°● 🛐

Emosi
Seorang ahli Taurat adalah orang terpelajar, yang sudah teruji melalui dedikasinya sebagai seorang 'penulis salinan Taurat', terpandang dan cukup memiliki kekayaan materi. Emosinya bergejolak ketika melihat Yesus mengajar dengan cara yang berbeda, penuh kuasa dan berhikmat. 
Kehadirannya dan melihat cara YESUS berkhotbah dengan hikmat dan pengetahuan yang luar biasa, mendorongnya untuk memutuskan untuk mengikuti dan menjadi murid YESUS. 
Namun ketika YESUS menyatakan bahwa resiko mengikuti DIA adalah "siap tidak terkenal, dan hidup dengan cara sangat sederhana", sang ahli Taurat menjadi kendur dan mundur. Hal ini karena dia terjebak dalam emosi sesaat. 
Padahal terlihat jelas bahwa ahli Taurat-lah yang mau mengikuti YESUS, bukan YESUS yang memanggilnya (ayat 19..).

Saudara, kalau kita memutuskan untuk mengikuti YESUS dan mempersembahkan hidup untuk melayani pekerjaanNYA, pastikan itu karena dorongan Roh Kudus bukan karena emosi sesaat, sehingga kita tidak kecewa ditengah jalan dan terhilang.

Ingat, jangan emosi..☝

Perasaan
Kemudian dikatakan ada seorang murid Yesus (yang bukan dari kelompok 12 rasul), menyatakan tekatnya untuk mengikuti YESUS secara fulltime.
Namun perasaannya diliputi tawaran untuk menghadiri pemakaman orangtuanya.
YESUS mengetahui bahwa yang menjadi pikirannya bukan kedukaannya tetapi dia akan kehilangan warisan jika tidak hadiri pemakaman orangtuanya (seperti dalam kebiasaan adat Yahudi).

Saudara, berbeda dengan ahli Taurat, kali ini Tuhan yang memanggilnya (ayat 22:.., ikutlah Aku..). Namun perasaanya bermain dengan situasi kedukaan yang dialaminya membuat dia tawar-menawar dengan Tuhan.
Keoutusan mengikuti Tuhan tidak boleh dikuasai juga oleh perasaan. Perasaan selalu terjebak dengan apa yang ditangkap dengan panca indra, sementara panggilan Tuhan - sinyalnya hanya ditangkap dengan perangkat manusia rohani kita.

Ingat, jangan pakai emosi, jangan juga memakai perasaan kalau mau mengikuti YESUS.

Tuhan YESUS memberkati kita semua🙏.
--‐---------‐-

Materi lengkap dapat dilihat dalam rekaman (Youtube) Ibadah Raya ke 2, diatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar